Sebuah sesal menyelip di ujung sela hati dan jiwa
mata terganjal karenanya, tak mampu dia mengatup sempurna
bara api yang menyala dalam dada tak mampu padam oleh siraman air nalar dan hembusan angin jiwa
cantik, sesal itu benar ada......
tapi amarah ini tetap menyesak didada,
syaraf telinga seperti butuh getaran berfrekwensi "dinda minta maaf kanda"
Meski kusadar, tak ada yang salah dalam untaian kata-kata adinda
tapi belitan kalimatnya menghimpit jiwa, menyesakkan dada, memanaskan bara dalam dada
Dada yang telah sesak dengan tumpukkan jerami masalah, terjilat bara, terbakarlah ia
Namun dinda meski dada ini masih menyala, tiada nama selain nuruliza didalamnya
walau airnya tak mampu padamkan amarah, nalarku masih bekerja untuk tetap mengalirkan cinta di sungai kehidupan kita
meski hembusannya tiada menggemingkan bara di dada, tapi dalam jiwa tetap memutar lagu rindu pada adinda
Tidak ada komentar:
Posting Komentar